Visi Indonesia 2030

March 29, 2007

Masih agak-agak shocked nih dengan soal UTS Teknologi Basis Data. Bayangin aja, udah ngapalin ngalor ngidul, ehhh ternyata soalnya malah… lupakanlah! Karna saking shock-nya, ga tau kenapa tiba-tiba jadi pengen nge-blog nih (nyambung ga si??). Hmm, sekali-sekali pengen nulis postingan yang lumayan serius ah.

Jadi gini, beberapa hari yang lalu, saya nonton berita yang menceritakan tentang peluncuran sebuah buku yang judulnya “Kerangka Dasar Visi Indonesia 2030” terbitan Yayasan Indonesia Forum. Saya memang belum baca bukunya sih, tapi setelah berkonsultasi dengan tante Gugel, saya nemu beberapa tulisan yang membahas isi buku tersebut. Dan yang membuat saya tertarik dengan buku ini adalah, “keberanian”-nya merumuskan visi Indonesia pada tahun 2030 yang ditopang dengan empat pencapaian utama, yaitu:


1. pengelolaan kekayaan alam yang berkelanjutan,
2. mendorong Indonesia supaya masuk dalam 5 besar kekuatan ekonomi dunia dengan pendapatan perkapita sebesar 18 ribu dolar AS/tahun,
3. perwujudan kualitas hidup modern yang merata, serta
4. mengantarkan sedikitnya 30 perusahaan Indonesia dalam daftar Fortune 500 Companies.

Wow, fantastis bukan?? Hmm, kata pertama yang muncul dalam pikiran saya adalah: “Yakin???” (with big question marks!) Haha, mungkin saya orang yang terlalu pesimis, tapi hmm… realistis dikit lah.. Kalo point satu sih saya masih percaya, bahkan sangat mendukung. Tapi point sisanya… @#$^$%@. “Pesimistis” saya ini bukannya tidak beralasan lho. Bayangkan, sang Presiden yang notabene menghadiri peluncuran buku itu saja menilai bahwa visi yang dirumuskan dalam buku tersebut terlalu berani (baca beritanya di sini). Hehe.. (dengan logat pembaca editorial Media Indonesia).

Selain itu, liat aja mahasiswanya, cuma bisa ngeblog ga jelas kayak saya ini. Oops, ga semua mahasiswa ding. Bahkan mungkin ga ada mahasiswa Indonesia lain yang se-”ga guna” saya. Hmm, kalo gitu, saya dukung deh Visi Indonesia 2030 di atas deh..

Btw, kalo tahun 2030, berarti saya udah umur 44 tahun. Saya bakalan kayak gimana ya di tahun itu?? I wish I were Nobita.. mo masuk laci meja belajar, terus naek lorong waktu..

12 Responses to “Visi Indonesia 2030”

  1. Zakka Says:

    Wawwww… Keren isinya… BTW, emang mungkin ya? Bentar2… Saking kecilnya nilai mata uang pada saat itu, jangan2 negara lain pendapatan per kapitanya udah ampe ratusan ribu dolar…

    Terus nih, emang negara lain gak maju yah dibanding indonesia? malah jauh lebih kongkrit… Menurut saya harapan itu berbau mustahil… 50 besar aja susah kayanya… IMO loh…

  2. Eunice Sherta Ria Says:

    gw juga ga yakin indonesia bisa nembus 5 besar dunia..ya maybe aga sedikit mungkin kalo indonesia begitu majunya sampe thn 2030 tapi negara2 lain stagnan..which is impossible..kenapa y mereka PD banget dengan visi itu??memberantas kemiskinan aja belom berhasil uda mau jadi 5 besar..

  3. nie Says:

    Nda’ apa2, keberhasilan itu berawal dari mimpi..
    [terpengaruh novel Sang Pemimpi + nodame ^,^]

    itu kan visi ‘kita’ di 2030,
    dengan ngeliat realita di sekeliling kita, misal dari hearing2 cakahim/capres selama ini, visi2 nya juga banyak, dan ga kalah bagus2. salah sijine selalu mengelu2kan ‘kontribusi yg konkrit terhadap masyarakat’

    tapi kenyataannya nda semuanya terrealisasi toh pas mereka JADI? khususnya salah sijine itu tadi =P
    iyo po ora? :D

    mungkin itu salah satu alesan kenapa tulisan
    ‘pengelolaan kekayaan alam yang berkelanjutan’
    ditaruh di nomor 1.
    Ya mereka yang mbikin gmn visi ‘kita’ 2030 itu udah sadar kalo yang mungkin terrealisasi ya cuman yang ini tok..

    ngomong opo toh iki mau aku?? huweehehehehe….
    yo wis ngono lahh, daripada g kasih comment to yo Cho’
    hihiiii…

  4. elok Says:

    Ya kita doain aja berhasil. harapan kan boleh aja. yang penting kita jangan pesimis dulu, kita semua harus berusaha, biasanya keberhasilan itu berawal dari mimpi (mungkin kita lagi mimpi kali…) tapi khususnya buat pemerintah juga harus merealisasikan janjinya dong. Masa’ janji doang tapi kalo dah kepilih lupa sama janjinya.

  5. cho Says:

    Iya ya, kalo mimpi aja ga berani, apalagi mencapai mimpi itu. Dan kalo mimpinya cuma setinggi lompatan saya pas ujian lompat tinggi di SMA (kenangan buruk), kalopun berhasil mentok-mentok ya segitu-gitu juga (ga akan lebih tinggi dari yang dimimpiin).

    Hmm, now I know why parents always told us: “Gantungkan cita-citamu setinggi langit”. Oops, tapi awas, semakin tinggi semakin sakit kalo nanti jatoh.. ya tho??

    Hiduplah Indonesia Raya!!
    (hehe, rasanya udah lama banget ga nyanyi lagu kebangsaan)

  6. farindra Says:

    Hidup itu harus punya impian… Iya nggak ? karena dengan impian itu kita akan berjalan… impian seolah menjadi tujuan akhir dalam perjalanan panjang kita….

    buat visi Indonesia 2030 ini bisa realistis bisa nggak… kalo gue bilang sih tergantung kitanya… meskipun buat melakukan itu, nggak hanya infrastuktur ekonomi aja yang diandalkan, tapi juga sistem politik (terutama) dan budaya juga mesti ada sebuah perbaikan (kalo nggak mau disebut perombakan) secara fundamental…

    gue setuju… kalo Indonesia terus dalam kondisi kayak gini… visi itu kayak sinetron… NGGAK FEASIBLE… cuma ngejual mimpi doang…

  7. Obby_Trice Says:

    Gini nih klo orang2 Indonesia sudah pesimis duluan bila dihadapkan pada sesuatu yang sekiranya tidak akan mampu dicapai.Lalu bagaimanakah penemuan tekhnologi yang telah tercapai sampai saat ini, dimana saat tekhnologi tersebut tercapai hal tersebut banyak menyinggung pesimis.
    Klo kita cuma beranggapan pesimis ya nantinya juga bakal terjadi tuh yang kita bilang,tapi klo kita dah optimis ya kenapa gak kita ikut serta mewujudkannya.

  8. cho Says:

    @Obby_Trice
    ampun pak!..
    Tapi kalo liat komentar-komentar sebelumnya (pada blog ini) dan juga komentar Mr. President of Republic of Indonesia himself pada salah satu media massa, saya cuma bisa bilang:
    “You may say I’m a pessimist, but I’m not the only one…”
    (nyontek lagunya John Lennon)
    Hehe.. piss bro!
    Hiduplah Indonesia Raya!!

  9. orangculun Says:

    Ya, semuanya berawal dari impian. Dengan impian, kita dapat berusaha untuk menjadi lebih baik. Ibaratnya, itu cuma sebagai pemicu agar kita mau berusaha meningkatkan taraf hidup kita.

    Andaikan visi itu menjadi “mendorong Indonesia supaya jatuh dalam 5 terakhir kekuatan ekonomi dunia dengan pendapatan perkapita sebesar 18 ribu rupiah RI/tahun”. Mo bilang apa lo?


  10. Target-target mulu, sekali-kali langkahnya gitu :D . Dibilang ga mungkin sih engga juga, segala sesuatu itu mungkin. But I agree with you, it’s a very big question mark

  11. Susilo Says:

    Orang-orangnya aja belum sadar. Gimana mau maju negara ini. Paling nggak harus terbiasa disiplin dari diri sendiri. Nggak egois … Komit sama pekerjaan. Susah lah … kompleks. Emang susah kalo mau maju. Hehehe …

  12. visi 2030 Says:

    Waktu kecil kita ditanya, “Apa cita-citanya kalau besar nanti?” Semakin bagus jawabannya (artinya, makin tinggi cita-citanya), makin bangga orang tuanya. Si anak menjawab, “Mau jadi dokter”.

    Si anak sedang meramal kah? Sedang bermimpi kah? Ataukah sedang memvisikan potensi dirinya di masa datang?

    Apakah si orang tua (atau orang lain yang bertanya) akan mengatakan “Mimpi nih yeee??”

    Least likely. Kalau ada orang yang seperti itu, orangnya itu yang goblok!

    Orang yang bijaksana akan berkata, “Wah hebat sekali cita-citamu. Kalau kamu benar ingin jadi dokter, belajar yang rajin ya”. Apa harapan si orang bijak ini? Harapannya, cita-cita tersebut akan merubah perilaku si anak sehingga dia belajar keras menggapai cita-cita itu.

    Visi 2030 bukanlah untuk pemerintah, bukan untuk siapa-siapa. Itu untuk masing-masing dari kita. Inginkah kita berubah, menggapai sesuatu potensi yang mungkin kita capai. Syaratnya: timbulkan dalam diri kita masing-masing keinginan untuk maju tersebut, di bidang yang kita geluti masing-masing. Tercapai atau tidaknya target-target tersebut akan tergantung dari masing-masing kita yang mengaku orang Indonesia ini.

    Salam,
    Visi 2030


Leave a Reply